PC IMM Sukoharjo
PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sukoharjo Jawa Tengah

Massa dan Aparat Nyaris Bentrok

sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/28/slo02.htm
Senin, 28 Nopember 2005

Tiga kelompok massa tertahan di luar Stadion Manahan, tempat penyelenggaraan puncak peringatan HUT Ke-60 PGRI, Minggu (27/11) kemarin. Mereka yang terdiri atas Komite Buruh Surakarta (KBS), Front Anti Neoliberalisme (FAN), dan Amuk Rakyat Surakarta (ARS) harus menelan kekecewaan.

Sebab, tidak bisa menyampaikan aspirasi kepada Wapres Jusuf Kalla yang memimpin peringatan tersebut.

Mereka hanya bisa berorasi di tempat masing-masing yang notabene masih berada di ring terluar pengamanan. KBS berada di depan SD Joho Kerten, FAN di SMA Ursulin, dan ARS di Masjid Kotabarat.

Aparat gabungan Polwil, Polresta, dan Makorem Surakarta terus menahan massa agar tidak merangsek ke stadion.

Ketiga kelompok yang mengusung isu berbeda itu harus menghadapi tindakan represif aparat keamanan.

Di SMA Ursulin, tepatnya di Jalan Adisucipto, puluhan massa FAN yang menolak kenaikan harga BBM nyaris bentrok dengan aparat.

Massa gabungan IMM Solo, PMKRI, PRP, SBSI, Perhimpunan Citra Kasih, IMM Sukoharjo, dan BEM STAIN Surakarta itu berusaha mempertahankan bendera merah putih dan spanduk yang mereka bawa.

Beberapa spanduk berikut bendera merah putih milik para demonstran direbut petugas menjelang rombongan Wapres lewat Jalan Adisucipto. Suasana langsung memanas, kedua kubu terlibat adu mulut.

Aparat menilai massa melanggar UU Nomor 9 Tahun 1998 yang melarang aksi dilakukan pada hari Minggu dan hari libur nasional.

Mengetahui emosi massa mulai tersulut, aparat gabungan langsung memasukkan mereka ke kompleks sekolah dan menguncinya dari luar.

”Sesuai dengan UU No. 9/1998, hari Minggu dan hari libur dilarang melakukan aksi. Kami harus menegakkan aturan yang sudah berlaku,” kata Kasubag Samapta Polwil Kompol Muhammad Nur saat memimpin pengamanan.

”Ini iklim demokrasi, kenapa kami dilarang mengeluarkan pendapat? Kami hanya ingin menagih janji SBY – Kalla yang katanya akan menjamin kenaikan kualitas hidup layak bagi rakyat. Mana buktinya, yang ada hanya penderitaan. Apalagi pascakenaikan BBM, warga kian tercekik,” kata Bambang Prakoso, koordinator aksi FAN.

Hal yang sama juga terjadi di Masjid Kotabarat, tempat massa ARS berkumpul. Gabungan dari BEM UNS, BEM FH UMS, KAMMI Daerah Solo, PRD, HMI Sukoharjo, PMII Sukoharjo, Expo 96, YAPHI, LPTP, SARI, LENSKAP, SPEK HAM, KOMPIP, Jerapah dan FKKB itu berusaha keluar menuju Stadion tetapi dialang-alangi aparat.

”Kami menuntut pemerintah mencabut kebijakan menaikkan harga BBM karena menimbulkan efek domino dan mengimplikasikan penjajahan terselubung. Kami menolak intervensi asing dalam pengelolaan minyak dan gas bumi serta nasionalisasi perusahaan minyak di Indonesia,” kata Syamsul, koordinator aksi ARS.

KBS juga bernasib sama. Gabungan sejumlah elemen buruh ini meminta Gubernur menaikkan upah dan membubarkan Dewan Pengupahan yang tidak memihak mereka.” (G13-42m)

Iklan

Belum Ada Tanggapan to “Massa dan Aparat Nyaris Bentrok”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: