PC IMM Sukoharjo
PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sukoharjo Jawa Tengah

Tradisi Liberalisme Politik dan Ekononomi di Barat

Abstract: Untuk memahami liberalisme, kita perlu mengenal konteks sejarah tumbuh dan berevolusinya paham ini, serta pengaruh dan konfliknya dengan isme-isme yang lain. Dengan segala perubahannya, liberalisme sekarang merupakan paham yang dominan di barat. Kita akan melihat bagaimana pemikiran ini mempengaruhi individu dan pemerintah barat dalam interaksi mereka, terutama di bidang politik dan ekonomi.

1 Batasan Pembahasan
Kata “liberal” berasal dari bahasa Latin yang bisa diartikan kebebasan. Liberalisme sendiri tidak mempunyai batasan definisi khusus, hanya seringkali disebut sebagai ideologi yang mengutamakan kebebasan individu. Prinsip inilah yang selalu dominan dalam setiap evolusi makna istilah liberalisme. Perbedaan pendapat yang utama dalam paham ini adalah peranan negara dalam konteks kebebasan individu tersebut.

Makna liberalisme juga sering dikaitkan dengan slogan Revolusi Perancis, “Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan”. Untuk keperluan artikel ini, slogan tersebut ditambah dengan batasan di atas cukup memadai untuk dipakai sebagai makna orisinal liberalisme.

Dalam artikel ini, karakteristik liberalisme akan dibahas berdasarkan konteks munculnya karakteristik tersebut. Ini bertujuan memudahkan memahami mengapa suatu perubahan pemikiran terjadi dan apa efek selanjutnya.

2 Latar Belakang
Berbagai revolusi melahirkan, membentuk dan sekaligus dilahirkan dan dibentuk oleh liberalisme. Ibarat bibit, kelangsungan hidupnya untuk menjadi pohon tergantung dimana dia berada. Karakteristik pohon tersebut adalah karakteristik lingkungan tempat dia tumbuh. Dan sebagai pohon, dia juga mempengaruhi kualitas udara dan tanah habitatnya.

2.1 Revolusi Iptek
Reformasi gereja di abad 16, dilanjutkan dengan perang agama di abad 17 mendorong banyak rakyat Eropa mulai skeptis tentang siapa yang benar dalam konflik ini. Sebelumnya mereka yakin raja mempunyai kuasa langit (divine rights) yang tidak bisa diganggu gugat.

Revolusi iptek abad 17 dan 18 memberikan inspirasi bahwa kebenaran bisa didapat melalui metoda ilmiah. Apa yang diterima melalui panca indra (observasi, empiris) harus diverifikasi oleh nalar (matematis). Apa yang dibuktikan oleh matematika (nalar) harus didukung oleh bukti-bukti empiris hasil observasi.

Hasil-hasil yang dicapai Newton, misalnya, membuat orang percaya bahwa alam semesta ini teratur dan berjalan sesuai hukum Tuhan, bukan hukum agama yang dibawa gereja. Keberhasilan metoda ilmiah untuk memahami alam semesta mendorong para pemikir untuk mengaplikasikan nalar dan metoda empiris ke ilmu sosial.

John Locke, pemikir dari Inggris, berpendapat bahwa sebagaimana alam semesta yang berjalan sesuai dengan aturan dari Tuhan, demikian pula manusia. Aturan yang mendasari keberadaan manusia adalah hak-hak individunya, yaitu kehidupan, kebebasan dan pemilikan.

2.2 Revolusi Amerika
Pengaruh terbesar John Locke ada pada Revolusi Amerika. Di Amerika menyebar kesadaran bahwa raja tidak punya hak mutlak atas rakyatnya (monarki absolut). Rakyat Amerika tidak mau membayar pajak yang besar hanya untuk menambah kas Inggris, tanpa kompensasi perwakilan dan pemerintahan. Kewajiban yang dibebankan tersebut dianggap melanggar nilai-nilai kehidupan dan kebebasan.

Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan deklarasi kemerdekaan Amerika oleh Jefferson. Tidak seperti Locke, Jefferson menganggap hak milik bukanlah hak yang samawi. Dia menggantinya dengan hak mengejar kebahagiaan, yang mungkin ada kesamaan dengan ide Aristoteles sebagai tujuan hidup. Hak-hak ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai kewajiban negara untuk melindungi kepentingan rakyatnya (Bill of Rights – Madison).

Perlu diingat, hak-hak tersebut pada awalnya hanya berlaku untuk laki-laki merdeka. Baru tahun 1920, wanita ikut dalam Pemilu nasional di AS. Lebih parah lagi adalah masyarakat kulit hitam, yang hak-haknya lama menjadi korban kepentingan ekonomi dan alat bagi orang-orang yang punya hak penuh untuk mengejar kebahagiaan mereka.

2.3 Revolusi Industri – Liberalisme Ekonomi dan Kapitalisme
Populasi Inggris di abad 17 dan 18 mengalami lonjakan pesat. Selain itu, dengan lancarnya jalur pelayaran ke Asia dan Afrika, mengalirlah kekayaan hasil eksploitasi kedua benua tadi. Hal ini menciptakan golongan baru, di luar kelas tradisional seperti gereja dan bangsawan, yang mempunyai kapital besar. Modal tenaga kerja dan kapital ini ditambah dengan ditambah dengan berbagai penemuan, seperti mesin uap, mendorong tumbuhnya berbagai industri baru.

Revolusi industri inilah yang menjadi lahan berkembangnya liberalisme ekonomi. Ide Adam Smith tentang pembagian kerja dan spesialisasi untuk mengoptimalkan produksi diterapkan di berbagai pabrik. Bahan dan hasil industri diperdagangkan di pasar bebas dengan seminimal mungkin campur tangan pemerintah (invisible hand), dan didasarkan atas asas comparative advantage.

Ini semua menciptakan, paling tidak bagi kaum bermodal, kebebasan dan kesetaraan ekonomi (dalam berdagang, investasi, dll) yang menjadi awal dari kapitalisme. [Kapitalisme sudah dibahas di kelas sebelumnya.]

2.4 Revolusi Perancis – Liberalisme Politik dan Nasionalisme
Revolusi Amerika terjadi lebih dahulu daripada Revolusi Perancis, tetapi karena jarak dan ketidak-tahuan, pengaruhnya hampir tidak terasa di Eropa daratan. Revolusi Perancis dan kejadian setelahnya, di lain pihak, membawa pengaruh besar di Eropa daratan terhadap kesadaran akan kebebasan dan kesetaraan berpolitik, sesuai dengan slogannya.

Revolusi ini menghilangkan diskriminasi agama (Katolik vs Protestan). Rakyat menjadi punya kebebasan mengemukakan pendapat dan menentang penguasa. Kesetaraan juga berarti rakyat merasa punya status yang sama dengan bangsawan dan ahli gereja. Akhirnya, terjadi perombakan institusi pemerintahan besar-besaran dari bentuk monarki menjadi republik.

Setelah Revolusi, Napoleon merusak batasan-batasan geografis dan tradisi dari kerajaan-kerajaan Eropa waktu itu. Selain itu, rakyat biasalah yang melawan Napoleon, bukan kalangan bangsawan atau gereja. Mereka merasa punya kewajiban untuk membela tanah air dan ikatan dengan sesama rakyat, bukan ikatan pada kerajaan. Ikatan nasionalisme ini melahirkan tuntutan akan hak-hak rakyat untuk terlibat dalam pemerintahan. Inilah awal runtuhnya berbagai kerajaan, dan lahirnya berbagai negara Eropa modern yang kita kenal sekarang ini.

3 Reaksi dan Evolusi Pemikiran
Perubahan yang dibawa liberalisme di berbagai bidang membawa berbagai reaksi dari berbagai golongan. Selain itu juga timbul perbedaan pandangan di dalam liberalisme itu sendiri.

3.1 Konservatisme
Golongan ini menentang penekanan liberalisme pada hak-hak individu yang menyebabkan terabaikannya tradisi kolektif suatu masyarakat. Misalnya, mereka memandang liberalisme merusak tradisi dan nilai-nilai sosial kebangsawanan. Mereka menganggap masa lalu lebih baik dan tradisi sosial harus dijunjung tinggi.

3.2 Sosialisme
Di lain pihak, penganut paham sosialisme merasa liberalisme perlu dibawa lebih jauh lagi. Kebebasan ekonomi dan revolusi industri menciptakan berbagai efek samping dalam kehidupan sosial yang timpang. Karena itu, golongan ini berpendapat kebebasan mungkin harus dikorbankan demi kesetaraan. [Sosialisme sudah dibahas di kelas sebelumnya.]

3.3 Utilitarianisme
Asas dari paham yang digagas oleh Bentham dan Mill (Inggris) ini adalah memaksimalkan manfaat untuk sebanyak-banyak orang. Paham ini tumbuh subur di Inggris dan merupakan salah satu sebab liberalisme politik di Inggris berjalan relatif damai, selain pengaruh Revolusi Amerika dan status Inggris sebagai negara Protestan.

Di bidang politik, penekanannya adalah pada perubahan konstitusional bukan perubahan institusi seperti Revolusi Perancis yang berdarah. Perubahan konstitusional dipandang lebih membawa manfaat yang besar untuk banyak orang. Inilah mengapa sampai sekarang monarki masih bertahan di Inggris.

Dari asasnya, jelas bahwa paham ini mendukung timbulnya demokrasi dan pemilihan umum untuk mengetahui jumlah orang yang paling merasakan manfaat dari suatu aturan. Pengaruh paham ini pada iptek juga mendukung revolusi industri. Prioritas di bidang pendidikan diberikan kepada iptek terapan, yang manfaatnya lebih terasa langsung.

Kritik terhadap paham ini terutamanya menyangkut penghitungan dan pendefinisian manfaat yang sangat relatif di setiap orang ataupun budaya. Juga timbul kritik terhadap pemenuhan manfaat semata dengan mengabaikan kebebasan. Misalnya, orang yang merasa terpenuhi semua kebutuhannya (melalui obat-obatan, atau seperti dalam novel terkenal, A Brave New World), tapi terikat kebebasannya.

3.4 Kontrak Sosial
Kalau semua orang bebas melakukan apa saja, bagaimana negara dan hukum tercipta? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab melalui kontrak sosial. Thomas Hobbes merasa pesimis dengan sifat dan kelakuan manusia. Menurutnya, kalau dibiarkan saja, manusia akan saling mencelakakan. Karena itulah manusia melakukan kontrak sosial dan membentuk suatu negara yang berkuasa untuk melindungi rakyatnya.

Sementara itu, Adam Smith lebih optimis dalam penilaiannya terhadap manusia. Dia melihat manusia masih punya sifat baik dan ingin menolong. Bahkan dengan usahanya untuk memperbaiki dirinya sendiri, setiap individu akhirnya memperbaiki masyarakatnya. Karena itulah peran negara harus dikurangi, karena individu bisa menjaga diri sendiri dan menolong orang lain yang kurang mampu.

4 Liberalisme Sekarang
Liberalisme keluar sebagai pemenang dalam pertempuran senjata, ekonomi, dan ideologi dengan Fasisme dan Sosialisme di abad ke 20. Perhatian sekarang lebih diberikan pada masalah-masalah sosial, serta apa dan seberapa peran pemerintah di dalamnya.

4.1 Keadilan Sosial
Dalam bukunya, Theory of Justice (1971), John Rawls (Harvard) menyempurnakan ide kontrak sosial dengan menambahkan perlunya keadilan sosial. Rawls ingin menciptakan kontrak yang memberi manfaat terbesar bagi individu yang paling tidak mampu. Kontrak ini dicapai ketika individu yang membuat kontrak tidak tahu tentang kemampuan dan status sendiri. Dengan demikian, dia akan memilih kontrak yang tidak merugikan orang yang tidak mampu, kalau-kalau dia sendiri nanti berada di posisi itu.

Karena itu, negara sebagai pemegang kontrak, haruslah memperhatikan hak-hak orang kurang mampu, biarpun mereka minoritas. Setiap manfaat yang diciptakan oleh pemerintah, harus dirasakan sebesar-besarnya oleh mereka yang berada di posisi paling bawah, harus paling menguntungkan orang yang paling tidak beruntung.

Bisa dikatakan bahwa ide ini merupakan aplikasi salah satu slogan Revolusi Perancis, yaitu Persaudaraan. Dalam suatu keluarga ideal, orang tua sebagai pemerintah, bekerja keras membantu semua anak-anaknya. Dan di antara kakak beradik, berusaha saling meringankan beban saudaranya.

Kritik utama dari paham ini adalah bahwa tidak semua orang punya kecenderungan takut resiko. Orang yang berani menanggung resiko, cenderung memilih kontrak yang akan menguntungkan kelas atas, dengan harapan bahwa mereka akan berada disitu dan mendapat keuntungan sebanyaknya.

4.2 Libertarianisme
Prinsip utama dari paham ini adalah suka rela. Segala sesuatu yang dikerjakan oleh individu haruslah suka rela, bukan paksaan dari pihak lain termasuk negara. Pajak bagi mereka adalah satu bentuk pemaksaan. Kebutuhan yang ingin dipenuhi lewat pajak bisa tercapai lewat berbagai program hasil inisiatif suka rela masyarakat.

Libertarianisme sering disebut sebagai liberalisme klasik, karena golongan ini ingin mengembalikan liberalisme seperti aslinya. Mereka menganggap peran negara semakin membesar dan merongrong kebebasan individu. Peran pemerintah haruslah seminimal mungkin, yaitu untuk memastikan satu-satunya kewajiban individu, untuk tidak mengganggu kebebasan individu lain.

4.3 Liberal dan Konservatif di AS
Golongan liberal di AS sekarang ini mempunyai prinsip yang mirip dengan Rawls. Kebebasan individu adalah penting, tetapi peran pemerintah diperlukan di dalam menjamin hak-hak kaum minoritas. Mereka mendukung berbagai program sosial pemerintah, seperti Social Security, Affirmative Action, dll.

Golongan Liberal juga lebih universalis. Bagi mereka, AS adalah bagian integral dari dunia internasional. Prinsip ini berarti AS harus terlibat dalam permasalahan internasional, terutama menyangkut masalah kemanusiaan (Rwanda, Ethiopia, Sudan), kestabilan politik regional (Perang Dunia I, Bosnia), kestabilan ekonomi regional (bantuan ke Argentina, Meksiko).

Sejalan dengan prinsip internasional ini, Liberal pada umumnya lebih menghormati pelaksanaan HAM dan hukum-hukum internasional. Ini menyebabkan – dalam kaitannya dengan kebijakan terhadap Muslim di dalam AS – mereka relatif lebih lunak dalam memperlakukan warga negara asing, karena mereka ingin warga AS diperlakukan sama di luar negeri.

Di sisi lain, Konservatif cenderung ingin mengurangi peran negara dalam masalah sosial dan ekonomi. Mereka mendukung privatisasi dan sistem perdagangan yang lebih bebas, pengurangan pajak, dan kebebasan rakyat untuk mendirikan dan membantu secara suka rela institusi ekonomi dan sosial.

Konservatif juga berbeda dengan Liberal dalam masalah nilai-nilai moral (agama). Konservatif ingin menjaga tradisi sosial dan keluarga. Ini terlihat misalnya dalam kasus pernikahan sesama jenis, pengguguran kandungan, dll.

Dalam hubungannya dengan negara lain, Konservatif cenderung lebih nasionalis. Mereka mengutamakan pertahanan dalam negeri dan perlindungan terhadap kepentingan AS di luar negeri. Kepentingan dunia internasional yang mempunyai potensi merugikan AS sering harus dikorbankan (mengundurkan diri dari Kyoto Treaty, menolak Mahkamah Internasional, veto terhadap keputusan PBB, dll).

Iklan

Satu Tanggapan to “Tradisi Liberalisme Politik dan Ekononomi di Barat”

  1. Terima kasih.
    Saya kutip beberapa bagian untuk tugas presenstasi makalah di kampus UNAS.

    Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: